
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi pasar tetap stabil meskipun volatilitas meningkat. Ketua OJK, Frederica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa likuiditas dan ketahanan pasar domestik masih dalam kondisi solid. Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah investor pasar modal terus bertambah, dengan kenaikan 1,78 juta investor baru pada Maret sehingga total mencapai 24,74 juta investor.
Pada sesi perdagangan, IHSG dibuka di level 7.103,26, sempat menyentuh level tertinggi 7.109,00 dan terendah 6.876,58 sebelum akhirnya ditutup di zona merah. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp21,5 triliun dengan arus dana asing keluar bersih sekitar Rp1,2 triliun.
Tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi oleh keputusan MSCI yang mengumumkan penundaan evaluasi saham Indonesia pada Mei 2026. Langkah ini dilakukan untuk meninjau reformasi yang dilakukan oleh OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Analis pasar menilai keputusan tersebut menahan aliran dana asing pasif sehingga memperburuk tekanan terhadap indeks.
Aksi jual asing terutama terjadi pada saham-saham unggulan seperti BBCA, BBRI, dan TLKM. Sektor perbankan mengalami penurunan terbesar hingga 3,8 persen, diikuti sektor konsumsi 2,9 persen dan pertambangan 1,7 persen. Namun, beberapa saham energi seperti ELSA dan AADI justru mencatatkan penguatan dan menjadi alternatif investasi di tengah tekanan pasar.
Di sisi lain, kinerja penghimpunan dana di pasar modal masih menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, total penggalangan dana korporasi mencapai Rp51,96 triliun dengan pipeline 53 penawaran umum perdana saham (IPO). Nilai aktiva bersih reksa dana juga meningkat 3,02 persen, didorong oleh arus masuk dana sebesar Rp9,12 triliun. OJK turut meluncurkan program edukasi investasi “Pintar Reksa Dana” yang menyasar generasi muda.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto juga mendorong percepatan IPO guna meningkatkan aktivitas pasar, mengingat baru satu perusahaan yang melantai di bursa sepanjang 2026.
Analis memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.800 hingga 7.200 sepanjang Mei 2026, dengan level support kuat di 6.745 dan resistance di 7.565. Sentimen global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta hasil evaluasi MSCI akan menjadi faktor penentu arah pasar selanjutnya. Investor disarankan tetap berhati-hati dan melakukan diversifikasi investasi untuk mengantisipasi volatilitas yang masih tinggi.
Tagss: Stabilitas Pasar OJK, Volatilitas IHSG Mei 2026, Evaluasi MSCI, Pertumbuhan Investor
Anup adalah seorang penulis dan kreator konten yang berdedikasi, dengan minat besar pada gaya hidup, budaya, dan tren terbaru. Anup menyajikan konten yang menarik dan informatif, yang menginspirasi pembaca dan mendorong mereka untuk mengeksplorasi ide dan perspektif baru.
