
JAKARTA — Laporan terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap kondisi memprihatinkan terkait pekerja anak di Indonesia. Tercatat sekitar 1,83 juta anak terlibat dalam aktivitas kerja, dengan mayoritas di antaranya masih menjalani pendidikan formal.
Temuan ini menunjukkan bahwa fenomena pekerja anak tidak selalu identik dengan putus sekolah. Sekitar 72 persen dari total anak yang bekerja tetap tercatat sebagai pelajar, menandakan adanya tekanan ekonomi yang memaksa mereka membagi waktu antara sekolah dan pekerjaan.
Dalam laporan tersebut, kelompok usia pekerja anak paling banyak berada pada rentang 15 hingga 17 tahun. Namun, LPEM FEB UI menegaskan bahwa anak di usia lebih muda juga tetap ditemukan dalam kategori pekerja, meskipun jumlahnya relatif lebih kecil.
Kondisi ini mencerminkan tantangan struktural dalam pasar tenaga kerja dan kesejahteraan rumah tangga. Banyak keluarga masih bergantung pada kontribusi ekonomi anak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama di sektor informal. Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas dan perlindungan sosial turut memperburuk situasi tersebut.
Para peneliti menilai, meskipun sebagian anak masih bersekolah, keterlibatan dalam pekerjaan berisiko mengganggu kualitas pendidikan dan perkembangan mereka. Waktu belajar yang terbatas serta kelelahan akibat bekerja dapat berdampak pada prestasi akademik hingga meningkatkan risiko putus sekolah di kemudian hari.
Fenomena ini juga menjadi indikator bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif. Ketimpangan pendapatan dan terbatasnya lapangan kerja bagi orang dewasa mendorong anak-anak ikut masuk ke pasar kerja sebagai strategi bertahan hidup keluarga. LPEM FEB UI mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan perlindungan anak serta memperluas program bantuan sosial yang tepat sasaran. Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan dan penciptaan lapangan kerja dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka pekerja anak.
Pengamat menilai, tanpa intervensi yang terarah, praktik pekerja anak berpotensi terus berlanjut dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai krusial untuk mengatasi persoalan ini secara menyeluruh.
Tags: LPEM; Pekerja Anak; Ekonomi keluarga; LPEM UI; Ekonomi Masyarakat
Jesse adalah seorang penulis dan kreator konten yang serbaguna dengan minat besar pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jesse berusaha menyajikan konten yang menarik dan informatif, dengan tujuan memicu rasa ingin tahu dan percakapan yang bermakna bagi pembaca.
