Pemkab Cilacap Lirik Batako FABA Buatan Napi Nusakambangan untuk Proyek Pembangunan
2 mins read

Pemkab Cilacap Lirik Batako FABA Buatan Napi Nusakambangan untuk Proyek Pembangunan

Pemerintah Kabupaten Cilacap mulai melirik produk batako berbahan fly ash bottom ash (FABA) yang diproduksi oleh warga binaan di Pulau Nusakambangan sebagai salah satu alternatif material pembangunan daerah. Produk tersebut dinilai memiliki kualitas yang baik, harga kompetitif, serta mampu mendukung program pemberdayaan narapidana melalui pelatihan kerja produktif. 

Pelaksana Tugas Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma menyebut material FABA memiliki keunggulan dari sisi kekuatan dan efisiensi biaya dibandingkan sejumlah bahan bangunan konvensional. Karena itu, pemerintah daerah membuka peluang pemanfaatannya dalam berbagai proyek pembangunan yang akan dijalankan pada masa mendatang.

Produk FABA sendiri merupakan hasil pengolahan residu pembakaran batu bara yang kemudian dicampur dan dicetak menjadi material konstruksi seperti batako dan paving block. Di Nusakambangan, produksi dilakukan melalui program pembinaan keterampilan bagi warga binaan yang berada di sejumlah lembaga pemasyarakatan. Program tersebut tidak hanya memberikan kemampuan kerja kepada narapidana, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. 

Workshop produksi FABA di Nusakambangan berdiri di area seluas lebih dari satu hektare dan dilengkapi mesin produksi otomatis maupun semiotomatis. Puluhan warga binaan setiap hari terlibat dalam proses pembuatan batako dan paving block yang kemudian dipasarkan ke berbagai wilayah. Kapasitas produksi mencapai ribuan unit per hari untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. 

Menurut Ammy, salah satu faktor yang membuat produk tersebut kompetitif adalah efisiensi biaya produksi. Selain memanfaatkan bahan baku yang tersedia, proses pembuatannya juga menjadi bagian dari program pembinaan sehingga biaya operasional dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas hasil akhir. 

Pemkab Cilacap saat ini tengah menyusun kembali rencana tata ruang wilayah yang akan menjadi dasar berbagai proyek pembangunan dalam beberapa tahun ke depan. Kehadiran produk FABA dinilai berpotensi mendukung kebutuhan material konstruksi sekaligus mendorong penggunaan produk lokal yang memiliki nilai sosial dan ekonomi. 

Program pemanfaatan FABA di Nusakambangan sebelumnya juga mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI yang meninjau langsung fasilitas produksi dan hasil pembangunan menggunakan material tersebut. Produk yang dihasilkan telah digunakan untuk berbagai kebutuhan konstruksi dan terus dikembangkan agar mampu bersaing di pasar nasional. 

Selain menghasilkan produk bangunan, program ini juga menjadi bagian dari upaya rehabilitasi sosial bagi warga binaan. Melalui keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana, para narapidana diharapkan memiliki bekal untuk kembali ke masyarakat dengan kemampuan kerja yang lebih baik setelah bebas nanti.