Pengusaha Keluhkan Tekanan Ganda Akibat Rupiah dan Bunga Acuan
2 mins read

Pengusaha Keluhkan Tekanan Ganda Akibat Rupiah dan Bunga Acuan

Ilustrasi. Foto: Pengusaha Keluhkan Tekanan Ganda Akibat Rupiah dan Bunga Acuan

Kalangan dunia usaha mengaku menghadapi tekanan yang semakin berat setelah nilai tukar rupiah melemah bersamaan dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Kondisi tersebut dinilai menambah tantangan bagi sektor usaha yang masih berupaya menjaga kinerja di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Keluhan tersebut disampaikan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyusul keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen. Dunia usaha menilai langkah tersebut memang bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal, namun di sisi lain turut meningkatkan biaya yang harus ditanggung perusahaan.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO Bob Azam mengatakan pelaku usaha saat ini menghadapi dua tekanan sekaligus. Pertama adalah pelemahan rupiah yang membuat biaya impor bahan baku dan komponen produksi meningkat. Kedua adalah kenaikan suku bunga yang berdampak pada biaya pinjaman perusahaan.

Menurutnya, banyak perusahaan masih bergantung pada bahan baku impor sehingga pergerakan kurs menjadi faktor yang sangat memengaruhi struktur biaya produksi. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, pengeluaran perusahaan otomatis meningkat dan berpotensi menggerus margin keuntungan.

Di saat yang sama, kenaikan suku bunga menyebabkan biaya pendanaan ikut bertambah. Perusahaan yang memiliki kredit modal kerja maupun pinjaman investasi harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga kepada perbankan.

APINDO memahami alasan Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter. Namun, dunia usaha berharap terdapat keseimbangan antara upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan kebutuhan mendorong aktivitas bisnis agar tetap tumbuh.

Pelaku usaha juga mengingatkan bahwa tekanan biaya yang berlangsung terlalu lama dapat memengaruhi ekspansi perusahaan, perekrutan tenaga kerja baru, hingga keputusan investasi. Dalam kondisi tertentu, perusahaan akan lebih berhati-hati dalam mengalokasikan modal untuk pengembangan usaha.

Meski demikian, pengusaha tetap optimistis perekonomian nasional memiliki peluang untuk tumbuh apabila stabilitas nilai tukar dapat dijaga dan iklim investasi terus diperbaiki. Dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan yang mendorong produktivitas industri dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing usaha.

Ke depan, dunia usaha berharap kondisi pasar keuangan lebih stabil sehingga beban yang muncul akibat pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga tidak berlangsung berkepanjangan. Dengan demikian, sektor riil dapat tetap berkembang, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.