Harga Ayam di Pasar Turun ke Rp35.000 per Kg, Peternak Sebut Overproduksi Jadi Penyebab
2 mins read

Harga Ayam di Pasar Turun ke Rp35.000 per Kg, Peternak Sebut Overproduksi Jadi Penyebab

Harga Ayam di Pasar Turun ke Rp35.000 per Kg, Peternak Sebut Overproduksi Jadi Penyebab
Ilustrasi. Foto: Harga Ayam di Pasar Turun ke Rp35.000 per Kg, Peternak Sebut Overproduksi Jadi Penyebab

Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional mulai turun hingga menyentuh kisaran Rp35.000 per kilogram. Penurunan ini mengikuti anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak yang bahkan hanya berkisar Rp13.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi. Kondisi tersebut memicu kerugian besar bagi peternak karena harga jual tidak lagi mampu menutupi ongkos produksi yang terus meningkat.

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) menyebut penurunan harga telah berlangsung sejak April 2026. Harga ayam hidup yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp18.000 per kilogram kini terus merosot hingga Rp13.000-Rp14.000 per kilogram di beberapa daerah, terutama di Jawa Barat. Padahal, harga pokok produksi (HPP) diperkirakan sudah mencapai Rp22.000-Rp23.000 per kilogram akibat kenaikan harga pakan dan komponen produksi lainnya.

Di sisi konsumen, penurunan harga mulai terlihat di sejumlah pasar. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, rata-rata harga ayam ras secara nasional masih berada di kisaran Rp37.200 per kilogram. Namun, di beberapa pasar Jakarta harga sudah turun di bawah angka tersebut, seperti Pasar Jatinegara sekitar Rp34.000 per kilogram dan Pasar Minggu sekitar Rp34.500 per kilogram.

Pelaku usaha peternakan menilai penyebab utama anjloknya harga berasal dari melimpahnya pasokan ayam di pasar. Produksi yang terus meningkat tidak diimbangi dengan pertumbuhan permintaan, sehingga terjadi kelebihan pasokan (oversupply). Di sisi lain, penyerapan ayam melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan pasar. Permindo berharap pemerintah kembali menyalurkan bantuan sosial berbentuk ayam sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya agar produksi peternak dapat terserap lebih optimal.

Selain persoalan pasokan, peternak juga menyoroti rantai distribusi yang dinilai belum efisien. Selisih harga antara tingkat peternak dan konsumen masih cukup lebar sehingga penurunan harga di kandang tidak sepenuhnya dirasakan pembeli. Kondisi tersebut membuat peternak tetap merugi meskipun harga ayam di pasar ikut mengalami penyesuaian.

Pelaku industri berharap pemerintah segera mengambil langkah stabilisasi, baik melalui pengendalian populasi ayam pedaging, peningkatan penyerapan produksi, maupun pengawasan distribusi. Dengan demikian, harga di tingkat peternak dapat kembali mendekati biaya produksi tanpa membebani konsumen.