ADB Proyeksikan Ekonomi Asia Pasifik Tumbuh 4,9 Persen pada 2026
1 min read

ADB Proyeksikan Ekonomi Asia Pasifik Tumbuh 4,9 Persen pada 2026

Ilustrasi. Foto: ADB Proyeksikan Ekonomi Asia Pasifik Tumbuh 4,9 Persen pada 2026

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik mencapai 4,9 persen pada 2026. Meski masih menunjukkan ekspansi, laju tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan tren sebelum berbagai gejolak global, mencerminkan tekanan yang masih membayangi perekonomian kawasan.

Dalam pembaruan laporan Asian Development Outlook, ADB menyebut ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang menahan akselerasi pertumbuhan. Konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah, gangguan rantai pasok, tingginya biaya energi, serta ketidakpastian perdagangan internasional diperkirakan terus memengaruhi aktivitas ekonomi di berbagai negara Asia dan Pasifik sepanjang tahun depan.

ADB menilai permintaan domestik di banyak negara masih cukup kuat sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi kawasan. Namun, kinerja ekspor diperkirakan melambat akibat lemahnya permintaan global, sementara biaya produksi tetap tinggi karena harga energi yang belum sepenuhnya stabil. Kondisi tersebut membuat prospek pertumbuhan masih dibayangi berbagai risiko eksternal yang sulit diprediksi.

Selain tantangan geopolitik, lembaga tersebut juga menyoroti arah kebijakan moneter global yang masih ketat sebagai faktor yang dapat memengaruhi arus investasi dan kondisi pasar keuangan negara berkembang. ADB mengingatkan pemerintah di kawasan perlu menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat agar mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus mengendalikan inflasi.

Bagi Indonesia, proyeksi kawasan tersebut menjadi indikator penting karena perekonomian nasional masih sangat dipengaruhi dinamika perdagangan dan investasi regional. Meski menghadapi tekanan global, ADB menilai sejumlah negara di Asia tetap memiliki fondasi ekonomi yang relatif kuat berkat konsumsi domestik yang stabil, pembangunan infrastruktur, serta investasi di sektor strategis. Ke depan, lembaga itu menilai perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga komoditas, dan kebijakan perdagangan internasasional akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik pada 2026.