Asing Catat Net Sell Rp221 Miliar di Sesi I, Saham Bank Besar Jadi Sasaran
2 mins read

Asing Catat Net Sell Rp221 Miliar di Sesi I, Saham Bank Besar Jadi Sasaran

Ilustrasi. Foto: Asing Catat Net Sell Rp221 Miliar di Sesi I, Saham Bank Besar Jadi Sasaran

Investor asing kembali membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) pada perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7). Hingga penutupan sesi pertama, nilai jual bersih asing di seluruh pasar mencapai sekitar Rp221 miliar, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar global di tengah meningkatnya ketidakpastian eksternal dan tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Tekanan jual asing terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi favorit investor institusi. Sejumlah emiten sektor perbankan, komoditas, dan telekomunikasi tercatat mendominasi daftar saham dengan nilai jual bersih terbesar. Aksi profit taking tersebut turut memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan pagi.

Berdasarkan data perdagangan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi beberapa emiten dengan nilai jual bersih asing terbesar pada sesi pertama. Selain itu, tekanan juga terlihat pada sejumlah saham unggulan lain yang memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks.

Di sisi lain, investor asing masih melakukan aksi beli bersih pada beberapa saham tertentu sebagai bagian dari strategi rotasi portofolio. Meski demikian, nilai pembelian tersebut belum mampu menutup besarnya tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar sehingga secara keseluruhan posisi transaksi asing masih mencatatkan net sell. Kondisi ini menunjukkan investor global masih cenderung selektif dalam menempatkan dana di pasar saham Indonesia.

Sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arus modal asing. Pasar terus mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, penguatan dolar AS, meningkatnya tensi geopolitik global, serta respons investor terhadap keputusan S&P Dow Jones Indices yang menempatkan Indonesia dalam daftar watchlist untuk evaluasi status pasar modal. Faktor-faktor tersebut mendorong sebagian investor asing memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pelaku pasar kini menantikan arah perdagangan pada sesi kedua serta perkembangan sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG. Analis menilai arus dana asing masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek hingga terdapat kepastian mengenai prospek suku bunga global, kondisi geopolitik, dan langkah regulator dalam menjaga daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor internasional.