Hilirisasi Tembaga Diuji, Smelter Freeport dan Amman Jadi Andalan
1 min read

Hilirisasi Tembaga Diuji, Smelter Freeport dan Amman Jadi Andalan

Ilustrasi. Foto: Hilirisasi Tembaga Diuji, Smelter Freeport dan Amman Jadi Andalan

Hilirisasi tembaga Indonesia memasuki fase pembuktian setelah PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) membangun fasilitas pemurnian berskala besar. Tantangan berikutnya bukan sekadar mengoperasikan smelter, melainkan memastikan kapasitas produksi dapat berjalan optimal dan mendorong tumbuhnya industri turunan di dalam negeri.

Freeport memiliki smelter baru di Manyar, Gresik, Jawa Timur, dengan kemampuan mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 600.000 ton katoda tembaga. Jika digabungkan dengan produksi PT Smelting, kapasitas katoda Freeport dapat mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.

Namun, smelter Manyar masih menghadapi tantangan operasional setelah mengalami gangguan. Freeport menargetkan fasilitas itu kembali beroperasi pada September 2026. Pemulihan produksi menjadi penting untuk menguji efektivitas investasi besar dalam mendukung agenda peningkatan nilai tambah mineral nasional.

Sementara itu, smelter Amman di Sumbawa Barat memiliki kapasitas desain pengolahan 900.000 ton konsentrat per tahun. Fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, dan 55 ton perak setiap tahun. Operasionalnya telah mencapai kapasitas maksimum untuk mengolah seluruh produksi tambang Batu Hijau pada Juni 2026.

Kehadiran dua fasilitas tersebut memperbesar kemampuan Indonesia memproses konsentrat tembaga di dalam negeri. Meski demikian, keberhasilan hilirisasi akan sangat bergantung pada kemampuan industri nasional menyerap katoda dan mengolahnya menjadi produk bernilai lebih tinggi.

Produk turunan seperti kabel, komponen elektronik, dan material industri menjadi mata rantai berikutnya yang perlu dikembangkan. Tanpa pertumbuhan industri pengguna, sebagian hasil pemurnian berpotensi tetap bergantung pada pasar ekspor.

Karena itu, fase baru hilirisasi tembaga tidak hanya diukur dari besarnya kapasitas smelter. Pembuktian sesungguhnya terletak pada keberlanjutan operasi, penyerapan produk oleh industri domestik, serta kemampuan menciptakan rantai nilai yang lebih panjang di Indonesia.