Karhutla Sumsel Meluas 1.926 Hektare, Satgas Bertindak 

KARHUTLA
KARHUTLA
Ilustrasi. Foto: Karhutla Sumsel Capai 1926 Ha 3 Kali Luas Kecamatan Menteng Jakarta

JAKARTA, INFO TERKINI JAKARTA – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terakumulasi mencapai 1.926 hektare (ha) selama berlangsungnya musim kemarau tahun 2026 pada Sabtu (22/8/2026). Angka kebakaran lahan yang masif tersebut diperkirakan setara dengan hampir tiga kali lipat dari keseluruhan luas wilayah administratif Kecamatan Menteng di Jakarta Pusat.

Data pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang hangus terbakar berada di kawasan ekosistem gambut dalam. Karakteristik lahan gambut yang kering dan rentan terbakar hingga ke lapisan bawah tanah menjadi tantangan terberat bagi tim Satgas Karhutla gabungan dalam memadamkan bara api secara permanen.

Sebaran Titik Kebakaran dan Dominasi Lahan Gambut di Sumsel

Berdasarkan pemetaan spasial BPBD Sumsel, konsentrasi area kebakaran terluas tersebar di sejumlah kabupaten yang memiliki bentang lahan gambut luas, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Musi Banyuasin (Muba), dan Banyuasin. Wilayah-wilayah ini memiliki riwayat kerawanan tinggi terhadap karhutla setiap kali memasuki puncak musim kemarau.

Luasan 1.926 hektare lahan yang terbakar merupakan akumulasi dari ratusan kejadian titik api (hotspot) yang muncul sejak awal periode kemarau.

Kondisi vegetasi semak belukar yang mengering di atas tanah gambut bertindak sebagai bahan bakar alami yang sangat mudah tersulut dan memicu kobaran api menjalar ke area yang lebih luas dalam hitungan jam.

Intensifikasi Operasi Udara Water Bombing dan Modifikasi Cuaca

Guna menekan laju kebakaran di wilayah yang tidak terjangkau melalui jalur darat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Satgas Karhutla Sumsel mengoptimalkan operasi pemadaman udara. Armada helikopter pengebom air (water bombing) dikerahkan untuk melakukan ratusan sorti penjatuhan air secara presisi di titik-titik koordinat api aktif.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga diintensifkan dengan menyemai garam higroskopis pada formasi awan potensial di langit Sumatra Selatan.

Upaya memicu hujan buatan ini ditujukan untuk membasahi kembali kubah-kubah gambut (peat domes) yang mengering agar kelembapan alaminya terjaga dari ancaman rambatan api.

Tantangan Pemadaman Darat dan Keringnya Sekat Kanal

Di garis depan darat, personel gabungan Manggala Agni, TNI, Polri, dan BPBD menghadapi kendala terbatasnya sumber air baku akibat kekeringan parit dan sekat kanal (canal blocking). Menyusutnya air di saluran primer memaksa petugas menggelar selang transmisi sepanjang ratusan meter dari sumber air terdekat.

Petugas di lapangan menerapkan teknik pemadaman suntik gambut (peatland injection) menggunakan pipa bertekanan tinggi.

Teknik ini krusial untuk mengalirkan air langsung ke rongga-rongga tanah gambut sedalam 1 hingga 2 meter guna memastikan bara api di bawah permukaan benar-benar padam dan tidak kembali menyala saat tertiup angin kencang.

Kewaspadaan Kualitas Udara Kota Palembang dan Bahaya ISPA

Eskalasi karhutla seluas 1.926 hektare ini meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah terhadap potensi ancaman kabut asap yang dapat terbawa angin menuju kawasan perkotaan, termasuk Kota Palembang. Dinas Lingkungan Hidup memantau indeks kualitas udara (ISPU) secara berkala guna mengantisipasi penurunan kualitas udara ambien.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel telah menginstruksikan seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan daerah untuk bersiaga penuh melayani warga yang rentan terdampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Posko-posko kesehatan dan pembagian masker medis mulai disiagakan di sekitar kawasan permukiman yang berada di dekat episentrum kebakaran hutan dan lahan.

Terbakarnya 1.926 hektare lahan di Sumatera Selatan yang setara tiga kali luas Kecamatan Menteng menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan mitigasi bencana karhutla di puncak musim kemarau. Melalui pengerahan masif armada pemadaman udara, ketangguhan regu darat dalam pembasahan gambut, serta penegakan hukum tegas terhadap pembakar lahan liar, diharapkan sebaran titik api dapat segera dikendalikan demi melindungi kualitas udara dan kesehatan masyarakat Sumsel.