Harga Kakao Naik Drastis Karena Dampak El Nino

Harga Kakao Naik Drastis Karena Dampak El Nino
Ilustrasi. Foto: Buah kakao yang dipanen petani. Harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao naik tajam pada Agustus 2026.

Harga referensi (HR) dan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao mengalami kenaikan tajam setelah ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk periode 1-31 Agustus 2026. Kebijakan kenaikan harga ini disebabkan oleh fenomena El Nino, serangan hama, dan cuaca buruk yang mengakibatkan penurunan produksi di negara-negara produsen utama kakao di Afrika Barat.

HR biji kakao untuk periode bulan Agustus 2026 ditetapkan menjadi 5.424,96 dollar AS dengan bea keluar dan pungutan ekspor sebesar 7,5 persen.

El Nino Jadi Salah Satu Pemicu Lonjakan Harga

Kemendag menjelaskan fenomena El Nino menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produksi kakao dunia. Dampaknya terasa di kawasan Afrika Barat yang selama ini menjadi sentra produksi kakao global. Selain El Nino, cuaca buruk dan serangan hama turut menekan hasil panen sehingga pasokan di pasar internasional berkurang.

Gangguan pasokan tersebut menyebabkan harga referensi biji kakao naik menjadi 5.424,96 dollar AS per metrik ton, meningkat 1.455,41 dollar AS atau sekitar 36,66 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, harga patokan ekspor naik menjadi 5.064 dollar AS per metrik ton, atau meningkat 1.418 dollar AS setara 38,90 persen.

Bea Keluar Tetap Berlaku 7,5 Persen

Meski harga kakao meningkat tajam, pemerintah tidak mengubah tarif bea keluar maupun pungutan ekspor. Untuk periode Agustus 2026, bea keluar biji kakao tetap ditetapkan sebesar 7,5 persen sesuai ketentuan yang berlaku. Pungutan ekspor juga dipertahankan pada level yang sama.

Kemendag menyebut penetapan tarif tersebut mengacu pada peraturan Kementerian Keuangan mengenai bea keluar dan pungutan ekspor komoditas pertanian. Kebijakan ini diharapkan tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan ekspor dan keberlanjutan industri kakao nasional.

Pasar Global Masih Diperkirakan Berfluktuasi

Pemerintah memperkirakan pergerakan harga kakao masih akan dipengaruhi kondisi cuaca dan produksi di negara-negara produsen utama. Selama gangguan pasokan belum sepenuhnya pulih, harga komoditas tersebut berpotensi tetap berada pada level tinggi.

Kemendag menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar internasional sebelum menetapkan harga referensi dan harga patokan ekspor pada periode berikutnya. Evaluasi dilakukan secara berkala agar kebijakan perdagangan tetap menyesuaikan kondisi pasar global.